Moke

Lokasi Pulau Flores tempat asal minuman moke

Moke adalah minuman khas dari pulau Flores yang terbuat dari tanaman siwalan (pohon lontar) dan enau.[1] Minuman ini mempunyai banyak sebutan seperti sopi, dewe, dan moke.[1] Tetapi nama yang paling familiar dan menjadi ciri khas dari Pulau Flores adalah Moke.[1] Moke adalah simbol adat, persaudaraan dan pergaulan bagi masyarakat Flores.[2][3]

Moke di Pulau Flores

Mayang/Tangkai dari pohon Enau, salah satu bahan dari Moke
Mayang atau Bakal Buah dari pohon Lontar, salah satu bahan dari Moke

Moke merupakan minuman tradisional yang dibuat dari hasil penyulingan buah dan bunga pohon lontar maupun enau, proses pembuatannya masih tradisional yang diwariskan secara turun temurun dan masih dilakukan sampai sekarang.[3] Pembuatan moke dilakukan di kebun-kebun masyarakat dengan menggunakan wadah-wadah tradisional seperti periuk tanah untuk memasaknya.[3] Pembuatan moke memerlukan keuletan, kesabaran dan keahlian khusus untuk menghasilkan minuman yang berkualitas.[3] Satu botol Moke butuh 5 jam, karena menunggu tetesan demi tetesan dari alat penyulingan yang menggunakan bamboo.[3] Moke dengan kualitas terbaik sering disebut masyarakat dengan BM atau bakar menyala.[3] Moke tersebut memiliki khasiat menyehatkan dan tidak memabukkan.[3] Moke dengan kwalitas terbaik biasanya hanya disajikan pada akhir pekan dan acara-acara adat seperti pesta pernikahan sebagai pendamping hidangan utama dan disajikan juga sirih dan pinang yang biasa dikonsumsi para wanita.[4] Walaupun moke merupakan minuman yang beralkohol, untuk mendapatkannya sangat mudah, diberbagai sudut kota maupun di pelosok desa moke selalu tersedia.[3] Di luar Kupang moke dapat ditemukan di warung pinggir jalan.[3] Harganya antara Rp 15-20 ribu per botol air kemasan sedang.[3] Arak tradisional ini merupakan minuman masyarakat luas di Flores termasuk di kalangan para pejabat daerah.[3] Masyarakat di Flores sering mengonsumsi Moke beramai-ramai atau dalam istilah daerah disebut dengan cara melingkar.[3] Konsumsi moke sering dilakukan bersama dengan aneka camilan atau lepeng dalam bahasa daerah.[3] Moke juga dikonsumsi bersama dengan makanan khas flores seperti lepeng ikan kuah asam, ikan bakar, sop kambing, pisang bakar/rebus dan sambal lemon atau sambal tomat balik.[3] Perjamuan tersebut sering dilakukan di luar rungan seperti di pinggir pantai, di halaman rumah dan di bawah pepohonan.[3]

Pembuatan Moke

Proses pembuatan penyadapan dimulai dengan menampung air bunga tandan dari pohon mike, atau dikenal dengan moke putih.[5] Peralatan yang digunakan adalah pisau atau golok, bambu berbentuk tabung berdiameter 15 cm, panjang 1 meter, dan sabuk pengaman.[5] Pemilihan bunga adalah bagian yang paling menentukan untuk dapat menghasilkan air mike yang bermutu baik dan jumlahnya banyak.[5] Kuncup bunga enau dibuka dengan menggunakan pisau atau golok secara hati-hati.[5] Setelah semua tandan terbuka, lalu tandan dirundukkan dengan menggunakan tali yang diikatkan pada pelepah daun bawah, dan dibiarkan selama 3-4 hari.[5] Penampungan atau penderasan air mike dapat dilakukan dengan mengiris ujung tandan bunga.[5] Setiap kali air diambil, bunga diiris kira-kira 0,5 cm dan air yang keluar ditampung dengan bambu.[5]

Penampungan atau penderasan air mike dapat dilakukan dengan mengiris ujung tandan bunga.[5] Sebelumnya bambu diisi dengan kapur sirih atau daun-daun khusus untuk mencegah air agar tidak menjadi asam.[5] Penampungan air dilakukan sebanyak dua kali dalam sehari yakni pagi dan sore hari. Dua kali sehari mesti memanjat pohon enau dengan tinggi sekitar 19 meter.[5] Umur pohon kira-kira 15 tahun.[5] Setiap pohon mikedapat menghasilkan 8-10 liter.[5] Air mike yang telah dikumpulkan selama kurang lebih satu hari, kemudian diberi bawang merah yang diiris, daun kemangi, dan daun.[5] Sesudah itu, moke sudah siap suguh menjadi minuman.[5] Minuman ini memiliki aroma yang khas, dan rasa asam sedikit bercampur agak pahit saat diminum.[5] Jika pohon tidak menghasilkan banyak buah, ada cara tradisi nenek moyang yang dapat memberikan hasil yang banyak.[5] Persoalan ini diatasi dengan penyadap tidak hanya dengan keahlian teknis namun juga dengan cara upacara pemberian sesaji, seperti sembelih ayam.[5] Sebab, penyadap menyakini bahwa pohon enau memiliki ‘roh’.[5] Setiap peyadap mesti mengetahui akan sisi ‘gaib’ dari pohon ini.[5] Oleh karena itu, pengiris memberikan sesajian.[5] Biasanya, menyuguhkan bahan saji sebelum pekerjaan iris bunga aren.[5] Doa-doa mantra mengiringi sesaji itu.[5] Nenek moyang telah berpesan bahwa pohon enau sebagai bagian dari kehidupan. Pohon ini memberikan berkah untuk saat ini dan masa depan.[5]

Jenis-Jenis Moke

Moke Putih

Moke putih adalah nira hasil sadapan dari pohon lontar atau pohon enau.[6] Cara pembuatannya adalah dengan memakai bambu berukuran seruas yang kemudian dicuci bersih dan dikeringkan lalu digantungkan pada ujung mayang yang telah dijepit atau dipukul-pukul dan dipotong ujungnya.[6] Dari proses itu, akan muncul cairan bening menetes dari ujung mayang, cairan itu adalah moke putih.[6] Moke putih yang manis dapat dimasak dan dijadikan gula merah.[6] Sedangkan moke putih yang diminum adalah moke yang ditampung dengan wadah bambu yang tidak bersih sehingga terjadi peragian dan rasa minuman ini pahit.[6] Moke putih sejenis ini ada yang dapat langsung diminum, tetapi lebih banyak digunakan untuk dimasak atau disuling dan menghasilkan moke hitam atau arak.[6]

Moke Hitam

Moke hitam sesungguhnya tidak hitam.[6] Warnanya seperti air putih dan sedikit kuning.[6] Ini adalah hasil sulingan dari moke putih.[6] Moke putih disuling di saung penyulingan tuak yang dalam bahasa Nagekeo disebut Kuwu tua.[6] Moke hitam sering dihidangkan dalam acara pesta adat.[6]

Perlakuan Petani di Flores

Perlakuan petani akan pohon enau sedikit berbeda dengan pohon alami lain.[5] Pada umumnya, petani membiarkan pohon enau (mike) tumbuh dan berkembang secara alami di kebun lahan kering.[5] Biasanya, mereka tidak memusnahkan saat pembersihan lahan siap tanam.[5] Tanaman yang satu ini tidak ditebang.[5] Hanya membersihkan sekitar pohon sekali dalam musim tanam.[5] Tumbuhan ini dibiarkan hidup.[5] Tidak ada upaya menaburi pupuk.[5] Tiada usaha membudidayakan.[5] Juga tidak ada perlakuan khusus walaupun memberikan banyak manfaat bagi tuan kebun.[5] Binatang Musang menabur biji pohon enau, manusia menuai hasil setelah menjadi besar. Musang memakan buah pohon enau lantas bijinya dibiarkan jatuh ke tanah.[5] Hewan inilah yang mengambil buahnya sebagai salah satu makanan.[5] Buah dibawa pergi ke tempat-tempat yang aman buat makanan.[5] Biji-biji enau dibiarkan jatuh ke tanah.[5] Lama kemudian biji-biji itu tumbuh dan berkembang.[5] Dengan demikian binatang Musang secara tidal sengaja seakan menabur biji enau ke tanah.[5] Ada biji yang ditaburi di ladang atau di hutan belukar dekat kebun petani.[5] Ketika biji itu bertumbuh menjadi besar maka manusia pada umumnya atau petani khususnya memanfaatkan bagian-bagian dari pohon enau.[5] Tangkai buah kemudian diolah sebagai sumber penyadapan air moke putih untuk diminum atau diolah menjadi sopi dan gula.[5] Kini air mokepun dapat digunakan sebagai salah satu bahan baku untuk fermentasi pembuatan pupuk dan pestisida nabati alami bagi tanaman kakao-coklat dan ijuk untuk membuat sapu atau atap rumah. Lidi dijadikan sapu atau dianyam menjadi piring buat rental saat pesta.[5] Buah enau mengandung rasa gatal dapat dipakai sebagai obat menghalau hama tikus yang menyerang tanaman padi.[5] Petani tradisional sangat menghargai pohon enau. Sebab pengalaman bertani membuktikan sistem akar yang dalam mampu menaikan permukaan tanah hingga menjadi subur.[5] Tanaman ini pun mempunyai fungsi menahan erosi saat tiba banjir pada musim hujan.[5] Oleh karena itu, pohon ini sama sekali tidak boleh diganggu oleh manusia.[5] Usaha dan ancaman merusakan dari pihak-pihak luar selalu diawasi.[5] Sebab ini adalah pengalaman leluhur yang diwariskan bagi anak cucu yang telah teruji dari masa ke masa.[5] Moke Putih sekadar minuman pelipur lara, tidak bisa dan tidak boleh minum hingga mabuk-mabukan.[5] Tidak juga minum sebanyaknya hingga kenyang dan tertidur dan lupa kerja.[5] Orang mabuk dan malas justru dihindari oleh masyarakat Flores.

Moke untuk Upacara-Upacara Adat Flores

Upacara Tua Kalok

Upacara tua kalok adalah upacara adat untuk beramai-ramai meminum moke sebagai simbol pernyataan suatu kesepakatan. Upacara biasa dibuka oleh "Tana Puan" (kepala suku) Talibura dan Tanarawa.[7] Dalam upacara itu, berkumpullah 11 orang Tana Puan dan tokoh masyarakat setempat, juga orang muda.[7] Sebotol moke dan gelas disiapkan di meja persis di depan tempat duduk pasangan Paket An-Sar.[7] Tana Puan Talibura dan Tanarawa memimpin ritual doa dan sapaan adat dalam bahasa setempat yang memiliki arti mendalam.[7] Setelah itu, gelas yang terisi moke diminum oleh para Tana Pu'an dan gelas yang masih terisi moke itu diserahkan kepada pasangan Paket An-Sar untuk diminum sampai habis.[7] Ritual ini dilakukan sebagai bentuk pengukuhan atas kebulatan tekad dan pernyataan dukungan.[7]

Upacara Roko Molas Poco

Roko Molas Poco merupakan suatu tradisi adat awal pembangunan Mbaru Tembong, rumah adat masyarakat Manggarai Raya, baik yang berdiam di Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat, maupun Manggarai Timur.[5] Roko dalam bahasa setempat berarti pikul secara gotong royong.[5] Sementara molas artinya cantik dan poco adalah hutan.[5] Alhasil, kata roko molas poco mengandung arti mengambil atau memikul secara bersama kayu terbaik dari hutan.[5] Pada rangkaian ritus Roko Molas Poco kewajiban para tokoh adat seperti tu’a golo (kepala Kampung), tu’a teno (kepala adat) adalah mengundang semua warga kampung, untuk melakukan lonto leok ( musyawarah bersama warga se- kampung) di rumah adat lama ataupun di natas (halaman kampung).[5] Selanjutnya, anggota masyarakat maupun tokoh-tokoh adat dibagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok Roko Molas Poco (kelompok yang akan pergi ke hutan untuk mengambil kayu tersebut) dan kelompok curu molas poco (kelompok yang akan menjemput Molas Poco tersebut).[5] Upacara adat Roko Molas Poco ini diawali dengan acara teing hang atau pemberian sesajian di altar sesajian (compang) yang dipimpin oleh tu’a golo.[5] Setelah upacara teing hang (Memberi sesajian kepada arwah nenek moyang) usai upacara, barulah kelompok Roko Molas Poco berangkat ke hutan (puar) dengan membawa manuk (ayam), moke, cola (kapak)), kope (parang), serta alat-alat lain yang dibutuhkan saat upacara tersebut berlangsung.[5] Setiba di hutan, kelompok Roko Molas Poco beserta tu’a golo duduk menghadap pohon yang akan dijadikan sebagai Molas Poco atau Siri Bongkok.[5] Kemudian tu’a golo, menyampaikan permohonan atau kepok atau torok tae (bahasa kiasan Manggarai) kepada arwah-arwah nenek moyang.[5] Setelah torok tae tersebut selesai barulah kayu-kayu dipotong dan Molas Poco tersebut diusung ke kampung oleh kelompok Roko.[5] Sesampainya di dekat kampung (Pa’ang beo) kelompok Roko Molas Poco tersebut dijemput (sundung/curu) oleh kelompok penjemput dengan diiringi tarian-tarian dan dilanjutkan torok atau kepok sundung atau curu.[5] Ritus “Roko Molas Poco” ini dilakukan untuk meneruskan warisan budaya leluhur dan agar rumah adat atau Mbaru Tembong yang akan dibuat tetap kokoh, serta memberikan ketenteraman bagi warga yang mendiami kampung tersebut.[5]

Merayakan Natal

Di Flores, Natal identik dengan ledakkan meriam bambu di nyaris semua sudut kota pada malam Natal.[8] Anak muda di Flores biasanya begadang semalaman pada 24 Desember sambil bermain kembang api dan minum moke.[8]

Upacara Teing Hang

Ritus Teing hang pada akhir tahun baru merupakan bentuk syukuran kepada arwah nenek moyang yang telah meninggal dunia pada tahun yang lama dan memohon berkah pada tahun baru.[8] Tahapan acara diawali dengan dilakukan Teing Hang Paneng Cepa(memberikan kapur sirih, sirih, pinang),teing tuak (memberikan Moke), Kebut Wulu Manuk Lalong Bakok (mencabut bulu ayam jantan putih ),Mbele Manuk Bakok ( sembelih Ayam Jantan putih),Toto Urat ( melihat urat usus Ayam jantan yang sudah disembelih dan dibakar).[8] Puncak teing hang ise empo agu ame(memberi makanan kepada nenek moyang dimana sesajian tersebut disimpan persis di tiang utama rumah),dan hang cama (makan bersama keluarga di dalam rumah)dimaksudkan sebagai bentuk penghargaan awal masyarakat setempat menyambut Nenek Moyang.[8] Sebagaimana kebiasaan dan tradisi masyarakat, tenda kapur sirih, daun sirih dan pinang dihadirkan sebagai makanan penghibur dikala tamu pertama kali hadir di rumah.[8] Tahap pertama, paneng cepa dengan menggunakan bahasa torok tae dilakukan dengan maksud untuk menyapa para hadirin dengan sopan santun dalam mengundang arwah nenek moyang hadir dalam ritus ini.[8] Tahap inung tuak atau meberikan moke menambah rasa persatuan arwah nenek moyang dengan keluarga di dalam rumah.[8] Sementara itu, Kebut Wulu Manuk Lalong mempunyai arti bahwa ayam jantan putih yang sudah disiapakan mempunyai makna warna putih bersih dan suci sebagai generasi penerus mempunyai hati,pikiran, perkataan dan tindakan yang bersih pada tahun yang baru.[8] Pada tahap ini, warga meminta supaya hati dan pikiran diterangi pada tahun baru melalui perkataan dan tindakan sesuai dengan putih bersih ayam jantan tersebut.[8] Ayam jantan disembelih dan darahnya dibiarkan menetes diatas mangkuk putih agar pemandu bisa melihat darah tersebut.[8] Hal itu mempunyai makna bahwa dengan darah ayam tersebut, semoga keluarga tidak tertimpa bencana pada tahun baru.[8] Dalam tahap berikutnya, ayam dibakar setelah itu dilanjutkan dengan toto urat manuk yang berarti melihat bagian urat usus dua belas jari dari ayam jantan untuk melihat apakah keluarga akan memiliki banyak rejeki pada tahun yang baru.[8] Tahapan upacara tersebut sangat tergantung dari kejelihan pemandu atau torok dalam melihat urat kecil warna hitam pada usus yang digunakan untuk menentukan nasib dari para keluarga.[8] Toto urat dilakukan dengan maksud melihat nasib masa depan keluarga yang melakukan ritus ini.[8] Setelah melewati proses Toto Urat, tahapan selanjutnya ayam jantan kembali dibakar hingga matang sehingga sebagian dagingya dapat disajikan bersama nasi dan air minum kepada nenek moyang.[8] Sesajian ini yang diletakan persis di lantai tempat dibangunnya tiang utama dalam rumah.[8] Pemberian sesajian ini kepada nenek moyang dilakukan sebagai rasa syukur dan mohon berkat pada tahun yang baru.[8] Sebagai tahap terkahir, bersama keluarga dan undangan yaitu anak wina atau anak perempuan yang sudah nikah dari keluarga dapat memberikan uang wali urat dia.[8] Kegiatan menyumbangkan uang ini untuk mendapat rejeki.[8] Anak wina wajib melakukan ritual ini kalau mau mendapakan rejeki dari nenek moyang melalui nasib hidup yang dapat diperlihatkan melalui urat usus ayam jantan.[8] Usai upacara, keluarga dan undangan yang hadir diundang makan danbersenang-senang dalam rumah untuk menyambut tahun baru.[8] Ritus ini diadakan jelang akhir tahun dan sangat tergantung dari keluarga yang menentukan hari dan tanggalnya.[8] Biasanya warga mengadakan upacara ini pada satu atau dua hari sebelum 1 Januari pada tahun yang baru.[8]

Moke sebagai Penopang Ekonomi Masyarakat Flores

Hampir sebagian besar penduduk di Flores Timur menggantungkan ekonomi rumah tangga dari perkebunan dan produksi moke.[9] Anak-anak warga dapat bersekolah hingga bangku perguruan tinggi karena ditopang oleh usaha moke, di lain pihak, pemerintahan Kabupaten Flores Timur mengeluarkan pernyataan yang kontroversial.[9] Pemerintah ingin menutup segala aktivitas produksi moke yang dilakukan warga dengan alasan tingginya konsumsi alkohol telah menciptakan situasi dan kondisi lingkungan yang tidak kondusif.[9] Pernyataan tersebut ditentang oleh warga karena akan berdampak pada penurunan pendapatan ekonomi rumah tangga.[9] Masyarakat menyatakan bahwa seharusnya pemerintah berterima kasih pada warga karena produksi moke telah membantu anak-anak Flores Timur dapat bersekolah hingga ke perguruan tinggi, lagipula moke juga menjadi salah satu syarat dalam proses ritual adat.[9]

Kontraversi

Salah satu kontraversi mengenai minuman ini di pulau flores adalah pemerintah daerah (pemda) kurang mendukung keberadaan moke sebagai salah satu aset daerah.[10] Pemda justru mengeluarkan peraturan daerah (perda) No. 8 Tahun 2011 tentang perizinan, pengawasan, dan pengendalian minuman beralkohol, perda tersebut mendapat penolakan dari masyarakat flores.[10] Masyarakat flores merasa yang perlu dilakukan oleh pemerintah daerah adalah melegalkan moke dengan kadar tertentu, mendukung pelabelan, dan pelatihan kepada para pembuat moke untuk meningkatkan kwalitas.[10] Sebab, moke mereka anggap sudah menjadi ikon Pulau Flores yang sudah dikenal oleh para wisatawan baik lokal maupun manca negara.[10] Mereka menyayangkan bahwa para wisatawan saat meninggalkan Flores dan mencari buah tangan, mereka hanya akan mendapatkan tenun ikat dan sedikit makanan, moke belum bisa masuk dalam daftar untuk dijadikan buah tangan.[10]

Rujukan

  1. ^ a b c "Moke". Kompasiana. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-05-04. Diakses tanggal 4 Mei 2014. 
  2. ^ "Moke". Backpackerborneo. Diakses tanggal 4 Mei 2014. 
  3. ^ a b c d e f g h i j k l m n o "Moke". Tempoo. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-05-04. Diakses tanggal 4 Mei 2014. 
  4. ^ "Moke". Femina. Diakses tanggal 4 Mei 2014. 
  5. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa ab ac ad ae af ag ah ai aj ak al am an ao ap aq ar as at au av aw ax ay az ba bb bc bd be bf bg bh bi bj bk "Moke". Flores Bangkit. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-05-26. Diakses tanggal 14 Mei 2014. 
  6. ^ a b c d e f g h i j k "Moke". Orangflores. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-05-05. Diakses tanggal 4 Mei 2014. 
  7. ^ a b c d e f "Moke". Tribun News. Diakses tanggal 4 Mei 2014. 
  8. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x "Moke". Kebudayaan Indonesia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-02-09. Diakses tanggal 14 Mei 2014. 
  9. ^ a b c d e "Moke". Suara Komunitas. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-05-17. Diakses tanggal 4 Mei 2014. 
  10. ^ a b c d e "Moke". Suryainside. Diakses tanggal 4 Mei 2014.